Kolagen untuk kulit: apakah bubuk dari toples bekerja — dan apa yang sebenarnya menjaga wajah

Redaksi blog ·

Perempuan usia 40-an merapikan kulit dahi di depan cermin — apakah kolagen untuk kulit bekerja

Kolagen untuk kulit kini diminum bersama kopi, dicampur ke smoothie, bahkan dijadikan kado ulang tahun untuk sahabat. Kita pilah apa kata penelitian tentang bubuk dari toples, siapa yang membiayainya, dan kebiasaan apa yang menjaga kolagen alami kulit lebih andal daripada suplemen apa pun.

Kolagen untuk kulit menjadi salah satu tren kecantikan terbesar: "kopi kolagen", bubuk di smoothie, toples berjanji "kulit seperti usia 25" di setiap linimasa. Di AS minatnya terus naik, dan di banyak negara lain kolagen sudah lama masuk daftar pencarian kecantikan terpopuler. Saran pencarian Google di Indonesia pun jujur memperlihatkan rasa penasaran: "manfaat kolagen untuk kulit", "kolagen untuk kulit wajah", bahkan "manfaat kolagen ceker ayam".

Kenyataan yang kurang nyaman: kolagen dari toples adalah salah satu produk industri kecantikan yang paling banyak diteliti sekaligus paling diperdebatkan. Dan selagi kita berdebat soal bubuk, kolagen alami kulit terus hilang setiap hari karena hal-hal yang tidak bisa ditutupi suplemen apa pun.

Kolagen itu apa, dan kenapa jumlahnya berkurang?

Kolagen adalah protein pembangun utama tubuh: sekitar 30% dari seluruh protein tubuh, bahan penyusun kulit, ligamen, tulang, dan tendon. Di kulit, kolagen bertanggung jawab atas kepadatan dan elastisitas.

Seiring usia jumlahnya menurun: menurut NPR yang mengutip dokter kulit, penurunan dimulai sejak usia 20-an, dan setelah 60 tahun produksi kolagen menurun pada semua orang, terutama terasa pada perempuan setelah menopause.

Apakah kolagen yang diminum bekerja — apa kata penelitian?

Singkatnya: ada hasil, tetapi lebih lemah daripada janji iklan. Dalam meta-analisis 2021 atas 19 penelitian, suplemen kolagen memperbaiki kelembapan, elastisitas kulit, dan kerutan dibandingkan plasebo. Dalam meta-analisis yang lebih baru atas 23 uji acak dengan lebih dari 1.400 peserta, perbaikan tercatat setelah 90 hari.

Namun angka-angka ini punya sisi lain: hasil paling mencolok datang dari studi berkualitas rendah yang dibiayai produsen suplemen, sedangkan penelitian berkualitas dan independen tidak menemukan hubungan yang bermakna. Pakar Harvard Health berhati-hati: penelitian kolagen masih tahap awal, dan manfaatnya perlu dikonfirmasi studi besar.

Apa yang benar-benar melindungi kolagen Anda, kami rangkum dalam PDF artikel ini: peta 20 kebiasaan "kolagen" dengan tanda mana yang sudah berjalan pada Anda, dan pelacak kulit 28 hari.

Tanya jawab

Apakah kolagen yang diminum benar-benar bekerja?
Sebagian penelitian menunjukkan perbaikan kelembapan dan elastisitas kulit. Namun hasil paling mengesankan lebih sering datang dari studi berkualitas rendah yang dibiayai produsen suplemen, sedangkan pada penelitian yang lebih ketat efeknya jauh lebih kecil atau tidak terbukti.
Manfaat kolagen dan risikonya — apa yang diketahui?
Menurut Harvard Health, penelitian suplemen kolagen masih tahap awal, dan manfaatnya perlu dikonfirmasi studi besar. Suplemen tidak diawasi seketat obat, jadi sebaiknya keputusan soal suplemen dibicarakan dengan dokter.
Perlukah minum kolagen setelah usia 40?
Kolagen alami memang berkurang seiring usia, tetapi toples bukan satu-satunya jalan, apalagi yang utama. Perlindungan dari matahari, berhenti merokok, lebih sedikit gula, protein yang cukup, sayur, dan buah bekerja untuk kulit apa pun keputusan Anda soal suplemen.
Apa yang merusak kolagen di kulit?
Menurut Cleveland Clinic, tiga faktor utamanya adalah sinar ultraviolet, merokok, serta kelebihan gula dan karbohidrat olahan. Matahari sekaligus menurunkan produksi kolagen dan mempercepat penguraiannya.

Baca juga